Selasa, 01 Oktober 2013

Rumah itu Saksi Bisu



Masih seperti biasanya, ku duduk termenung di depan rumah. Tak urung pandangku lepas dari rumah hijau di seberang sana. Rumah yang selalu nampak sepi, baik pagi, siang, sore apa lagi malam. Sesibuk itukah semua penghuninya? Apa tak ada sedikit saja dari kehidupan mereka untuk bersosialisasi?
Sudahlah, bukan urusanku. Mungkin benar kata teman-temanku, kamu hanya masa laluku. Ya orang yang bertempat tinggal di rumah itu. Sesorang yang dulu benar-benar aku sayangi atau bahkan hingga saat ini. Aku juga tak tahu.
Lima bulan sudah kujalani hidupku tanpanya. Tetap saja masih susah bagiku untuk melupakan sosok yang kini benar-benar semu itu.
Kembali lagi pada malam ini, saat aku lihat rumah itu terlintas semua tentangmu. Tentangmu yang dulu. Ketika kita bersama. Melewati berbagai peristiwa. Rumah yang selalu aku hampiri ketika pulang sekolah. Hanya untuk menyatakan kamu baik-baik saja. Membawakanmu makanan, mengerjakan peermu, bersenda gurau, atau sekedar membereskan rumahmu. Namun sekarang, sudah tidak lagi. Itu hanya rangkaiannya cerita yang bisa aku ingat hingga nanti kau benar-benar bukan milikku lagi.
Mungkin saat ini kau bukan milikku, tapi sosokmu yang datang dan pergi akhir-akhir ini membuatku risau, bingung dan bimbang untuk memikirkan apa yang sebenarnya kamu harapkan dariku. Mempermainkanku? Atau kau benar-benar tak bisa jauh dariku?
Memang aku mencintaimu, tapi apa ini yang namanya cinta? Ketika kamu telah benar-benar setia dan cinta mengkhianatimu (berkali-kali)? Tapi bukan ini yang aku mau, kamu memang ada di sampingku tapi kamu tak pernah seutuhnya untukku. Bila kamu memang benar-benar ingin pergi, pergilah, aku ikhlas dengan semua keputusanmu untuk memilih yang lain yang jauh lebih sempurna dariku. Tapi aku mohon, jangan kembali seperti ini lagi, kamu kembali di hadapanku dengan segala kenyamanan yang tak bisa aku miliki seutuhnya karena kamu bukan milikku.
Sekarang mungkin aku telah melemah, karena aku takluk dihadapanmu, dan sekarang juga kamu pergi meninggalkanku lagi. Sebodoh inikah aku? Kapan ini berakhir? Kamu menyiksaku, benar-benar menyiksaku. Sakit bila kamu tahu. Hmm, jangan tahu, rasakan bila kamu mampu.
Ini hanya kenangan saat aku menatap ruma diseberang itu. Akan selalu ku tatap untuk malam-malam berikutnya, agar aku tak lupa dengan semua ceritanya sebelum aku benar-benar pergi meninggalkanmu sayang.
Ya mungkin saat ini aku hanya seorang gadis yang bisanya hanya merengek, menangis, maaf bila yang aku rasakan ini membuatmu risih. Dan aku harap cerita segera berujung ...

3 komentar: