Aku pernah setia, tapi aku diduakan
Aku pernah percaya, tapi aku dikhianati
Aku pernah mencintai, tapi aku disakiti
Aku pernah memiliki, tapi aku kehilangan
Aku pernah tulus, tapi aku dibohongi
Aku pernan berharap, tapi harapan itu sia-sia
Masi ada kenangan kita selama 2 tahun terakhir
ini
Rasa sayangku mungkin terlalu besar hingga tak
aku rasakan sedikit pun benciku padamu
Aku tahu aku harus lanjutkan hidupku tanpamu lagi
Tapi seolah kau menjadi bayang-bayang yang
membuatku tak bisa bangkit
Setiap apa yang aku lakukan selalu mengingatkanku
padamu
Setiap tempat yang aku hampiri selalu mengenang
apa yang telah kita lalui bersama
Kamu manusia yang tak berhati bagiku, tapi kamu
adalah yang terbaik yang aku pernah aku miliki
Aku pernah tertawa bersamamu ,
Aku pernah bernyanyi bersamamu ,
Aku pernah berlari bersamamu ,
Aku pernah menangis bersamamu dan karenamu,
Sampai detik ini pun kutulis kisah ini aku masih
menangis karenamu dan tanpamu di sisiku
Kelak kau akan tahu bagaimana rasanya jadi aku ..
Saat semua menghilang, waktuku adalah kamu..
Waktuku untuk mengingatmu,
Waktuku untuk mengenangmu,
Waktuku untuk menangis,
Waktuku untuk memikirkan segala tentangmu yang
tak pernah bisa sirna dari fikiranku..
Waktuku semua habis hanya untukmu, tapi tak pernah
ku sesali itu..
Rasa sakit yang kau beri yang aku tak tahu dimana
letak akhirnya sama seperti cerita cinta kita yang tak memiliki ujung..sampai
detik ini..
Ini bukan lah
sebuah cerita karangan,
Ini juga bukan sebuah kisah khayalan,
Ini hanyalah cerita dari ungkapan hati
manusia ..
Namaku Dede. Kutulis semua yang aku alami
disini. Anggap saja aku sedang menceritakan kisah ku pada kalian. Semua curahan
hati ini. Tentang cinta. Romansa cinta anak SMA.
Pernah gak kalian ngalami cinta monyet? Cinta
yang asik, seru, unik,dan lucu? Tapi cinta itu berubah menjadi cinta yang
tulus, bukan lagi cinta main-main. Mungkin memang belum saatnya, tapi apabila
itu takdir Tuhan, mengapa tidak?
Jujur aku pernah mengalaminya, dan sampai
detik ini aku bercerita tentang ini pun aku masih merasakannya. Merasakan
perasaan yang berbeda terhadap seseorang. Perasaan yang awalnya hanya sebuah
cinta monyet namun sekarang seolah berubah menjadi cinta yang benar-benar
tulus.
Sejak awal Tuhan menentukan cara kita
bertemu. Sejak awal Tuhan menentukan cara kita bersatu. Dan segala sesuatu yang
terjadi dalam kisah kita. Aku benar-benar sadar semua terjadi secara kebetulan.
Aku dan dia adalah seorang teman lama.
Teman kecil di sebuah perumahan. Sering bermain bersama. Tertawa bersama. Nakal
bersama. Walau umur yang membedakan kami, itu tak menjadi masalah untuk
keisengan yang semua kami lakukan. Saat masih TK pun kami juga satu sekolah.
Aku kakak kelasnya. Masih sering main bareng juga, sampai-sampai antar-jemput
ke sekolah juga bareng.
Terus bergulirnya waktu kami juga sudah
sama-sama beranjak remaja. Sekolah di tempat pilihan masing-masing. Di rumah
terkadang kami juga masih sempat bermain bersama. Tapi lambat laun karena
kesibukan masing-masing dari kami, kami jarang lagi berkumpul seperti dulu. Tak
ada lagi yang namanya main petak umpet, jolip-jolipan, kirik gancet, dan
semuanya. Kami sudah sama-sama asing. Bahkan untuk bertegur sapa pun kami
enggan. Entah kenapa. Tapi ini hanya tentang aku dan dia. Beda dengan
teman-temanku yang lain. Kami tetap bertegur sapa atau bahkan berkumpul untuk
bercerita pengalaman masing-masing.
Berjalan hari demi hari, waktu demi
waktu, hingga saat itu aku teringat awal dimana Tuhan mengubah semua kondisi
ini. Cukup konyol untuk diingat. Namun itu sangat berkesan. Ketika aku tengah
duduk asik menikmati indahnya malam bersama sahabatku di depan rumah. Saat itu
pula kamu datang. Hadir dalam kehidupanku. Ini bukan tentang aku yang tengah
risau karena patah hati dengan pasangan sebelumnya. Namun aku tak pernah
berharap atau hanya sekedar meminta kepada Tuhan akan kehadiran sosokmu dalam
hidupku. Atau inikah Takdir?
Kamu melintas malam itu. Membuatku tertawa
akan tingkah konyolmu. Hingga aku benar-benar tersipu dengan kehadiranmu. Entah
apa yang membuatku merasa nyaman berhubungan denganmu. Bahkan sangat ingin
terus menghubungimu. Sampai akhirnya tanpa aku sadari, malam itu tengah kita
menikmati pesta di rumah, aku menyatakan apa yang aku rasakan kepadamu. Aku
sadar ini nekat atau bahkan salah, karena kamu telah memiliki pujaan hati. Tak
dapat kupungkiri pun aku juga telah memiliki kekasih. Tapi kenapa kamu ijinkan
aku masuk dalam hubungan kalian? Kamu ijinkan aku masuk terlalu dalam, sangat
dalam. Ini salah. Tapi aku tak mau mengakhirinya. Sulit bagiku untuk
menyadarkan diri atas apa yang aku rasakan dan kamu rasakan adalah salah. Meski
aku tahu kita memiliki perasaan yang sama. Andai keadaan tak sesulit ini, mungkin
aku bisa bahagia, sangat bahagia ketika aku ada disampingmu.
Ini bukan hal logis, ini masalah hati.
Sering pula ku rasakan sakit saat kamu tengah bersamanya. Sakit yang teramat
sangat. Yang semestinya tak aku rasakan saat aku tak berada di posisi ini. Ya,
menjadi kekasih gelapmu. Sulit memerankan apa yang seharusnya tak aku inginkan.
Namun, semakin hari semakin jauh hubungan ini, semakin besar pula rasa ini.
Terkadang aku berdoa pada Tuhan, akankah
aku menerima karma dari ini semua? Bukan aku yang memilih ini, dia yang hadir
dan memberikan kenyamanan padaku sehingga aku benar-benar terjebak. Terkadang
aku tak bisa membedakan apa ini hanya sebuah rasa nyaman yang teramat atau rasa
sayang yang menggebu? Aku benar benar tak tahu. Di sisi lain aku kasihan
melihat wanita yang lebih dulu bersamamu merasakan perih atas perselingkuhan
ini, namun di sisi lain aku tak bisa berada jauh darimu. Apakah ini adil?
Apakah egoku terlalu besar? Aku tak bisa berfikir dengan tenang Tuhan! Ini
membingungkanku.
Seiring dengan bergulirnya waktu, semua
terungkap. Mungkin aku bahagia bisa menjadi satu satunya gadis dalam hidupmu,
namun aku tak pernah tenang dengan semua yang telah terjadi. Ketakutanku
semakin menjadi jadi.
Aku tahu suatu saat nanti semua akan
terjadi. Tepat hari itu, tepat dimana kamu menggantungkan hubungan ini. Cukup
lama aku mencari sosok mu di dalam kegelapan. Tak ku temukan cahaya disana.
Sangat gelap. Aku selalu berdoa pada Tuhan untuk memberikan secercah cahayanya
pada hubungan ini. Hubungan sulit ini. Ketika aku telah benar-benar rapuh di
saat aku kehilangan bayangmu, seketika itu bayangmu hadir di hadapanku. Dengan
senyuman kau datang. Namun senyuman itu lenyap saat kau berkata untuk
mengakhiri segalanya. Semua cerita kita.
Dari awal aku yang tengah rapuh kini
menjadi hancur. Tiap malamku ku isi dengan tangisan, tangis kepedihan saat aku
harus menerima kau memilih dia. Dia yang menjadi kekasihmu. Tapi apa yang
terjadi, wanita yang kau pilih malah mencampakkanmu. Dan maaf saat itu aku
tengah merasakan sakit yang dalam sehingga aku tak bisa bersamamu lagi saat kau
berpaling dari penolakannya. Aku terdiam dalam sakitku. Aku benar-benar
mencintaimu, tapi sakit ini menyiksaku. Aku hanya bisa bersujud dan memohon
pada yang Maha Kuasa untuk memberikan yang terbaik bagimu.
Waktu terus bergulir. Tanpa terasa kami
juga semakin dewasa. Dewasa dari keadaan yang dulu. Mungkin kau telah
melupakanku, kau telah menjalin cerita indah dengan wanita lain di luar sana
dan bahkan lebih bahagia mungkin. Dan aku hanya bisa tersenyum melihat
kebahagiaanmu. Aku memang mencintaimu , tapi bahagiamu diatas segala-galanya
bagiku. Sampai sekarangpun aku tak ingin melupakanmu, walau pahit kenangan ini.
Rencana Tuhan selalu indah bagiku. Di
setiap rencananya selalu ada hikmah yang dapat aku ambil sebagai penguatku.
Kali ini Tuhan menemukan kita kembali. Dalam pertemuan singkat di sebuah cafe.
Malam itu. Ya, aku ingat malam itu. Aku ingat kejadian itu. Aku ingat seperti
apa rupamu, pakaianmu, dandananmu, gayamu. Dan aku suka itu. Mungkin, kau tak
banyak berubah, hanya rupa kedewasaan yang mungkin sedikit berubah. Namun
sayang, setelah kita bercerita, terbesit rasa kecewa karena kau telah bersama
gadis lain. Tapi kulihat kebahagiaan disana, sedikit demi sedikit aku bisa
melepas senyum keikhlasanku untuk melihatmu bahagia.
Tak lama dari itu, Tuhan mengubah jalan
cerita ini. Entah apa yang Tuhan inginkan, mengujiku kembali atau apa. Tuhan
mengembalikanmu padaku. Untuk kembali menjagamu, menyayangimu, mencintaimu. Aku
tak pernah tahu bagaimana kedepannya nanti, tapi hatiku memang tak bisa
memungkiri segala sesuatunya. Aku luluh
di hadapanmu. Aku mengiyakan untuk kembali berbagi cerita hidup bersamamu.
Aku bahagia bersamamu. Semua kita lalui
bersama. Kenakalan-kenakalan kita tengah itu. Keisengan kita. Semua. Aku
bahagia Tuhan. Dan setiap aku mengucap pengharapanku, aku selalu takut untuk
kehilangan dia. Dia begitu berarti bagiku. Dia siang dan malamku. Dia
benar-benar telah membuatku bertekuk lutut. Seperti budaknya. Yang seketika
bisa ia tinggalkan begitu saja.
Keyakinanku padanya semakin besar.
Cintaku, sayangku, tak akan pernah hilang. Cerita yang lalu mungkin awal dari
pengalamanku. Dan akan menjadi pelajaran bagiku.
Setiap apa yang kita lakukan berdua
benar-benar menjadi kenangan bagiku. Aku ingat saat itu bulan November.
Mendekati hari ulang tahunmu. Aku pernah bertanya, apa yang kau minta saat
ulang tahunmu nanti. Dan betapa terkejutnya aku saat ku dengar jawabanmu, kau
hanya minta aku ada di sampingmu saat ulang tahunmu. Aku selalu menjawab aku
akan setia ada di sampingmu sampai kapanpun. Saat aku sebagai kekasihmu ataupun
bukan. Sebenarnya aku tangah menyiapkan segala sesuatunya untuk ulang tahunmu.
Namun semua berbeda. Benar benar semua
ketakutanku menjadi nyata kembali. Mungkin aku terlalu naif untuk menganggap
ini semua kebetulan. Sebelumnya kau selalu menghindar dariku, menjauh,
mengelak, tak berbicara, dan menggantungkan hubungan ini sekali lagi. Perih
bila kau tahu rasanya.
Saat itu, tepat sehari sebelum hari ulang
tahunmu. Kebahagiaanku terenggut. Apa yang selalu aku takutkan sekarang terjadi
(lagi). Kau berpaling. Mendua. Meninggalkanku dengan cara yang sama. Sama
seperti dulu kau meninggalkanku demi wanita lain. Seperti dulu aku yang rapuh
karena kehilangan bayangmu, seakan-akan kini aku tak tahu harus berbuat apa.
Serasa terenggut hidupku. Kali ini benar-benar sakit dari yang sebelumnya.
Sebagai seorang wanita, aku hanya bisa menangis. Karena sakit yang aku rasakan
ini benar-benar sakit.
Semua yang telah aku perjuangkan sekarang
hilang di terpa badai. Tapi aku tetap setia pada janjiku. Janji setiaku padamu.
Mungkin sakit, tapi apa boleh daya, bila kebahagiaanmu bukan bersamaku. Aku
hanya bisa melihatmu dari kejauhan, melihat senyummu, tawa bahagiamu, tak
pernah tersirat keinginanku untuk melihatmu bersedih.
Tak pernah kurasakan mencintai seseorang
akan sesakit ini. Sesakit batin yang selalu menyiksaku untuk melihatmu bahagia.
Terkadang aku tak rela, namun aku selalu bersikap dewasa. Demi terlihat tegar.
Aku tak sanggup tanpamu.
Aku masih ingat, kala itu setelah kau
benar benar merasa wanita yang kau pilih adalah tepat untuk membahagianmu
daripada aku. Cukup lama setelah perpisahan kita. Tanpa sengaja tengah aku pergi
ke suatu tempat, aku bersama temanmu, berdua dan kau memperhatikan itu. Ketika
aku sampai di rumah, betapa terkejutnya aku saat menerima pesan singkat darimu,
kau mengatakan bahwa kau cemburu saat aku bersama temanmu tadi, aku mencoba
untuk tidak terpancing dengan apa yang kau katakan. Sudah cukup bagiku
mencintaimu, aku pertahankuan rasa ini karena aku mau, tapi untuk di sakiti
mungkin tidak lagi. Logika memang tak seutuhnya benar, hati ini bergejolak.
Meronta. Memintaku untuk kembali luluh di hapannya.
Kadang aku berdoa pada Tuhan, sebenarnya
apa yang Tuhan inginkan dariku, mengapa Dia mempermainkan perasaanku ini. Apa
boleh buat. Lagi-lagi aku mengiyakan untuk memaafkan segala tingkahnya. Dia
berjanji padaku untuk tak mengulanginya lagi. Semua janjinyalah yang esok akan
bercerita padaku, apakah ia hanya main-main atau bersungguh-sungguh.
Kau tak pernah berubah untuk bisa membuat
hati ini bahagia. Meski kadang sakit mengingat apa yang tengah aku perjuangkan
suatu saat akan kembali terenggut. Aku yakin, ini sudah menjadi kebiasaannya
untuk mempermainkan aku. Dan suatu saat semua akan terulang, entah kapan, dan
entah kapan pula aku harus benar-benar jera untuk mencintainya.
Dan saat itu pun terjadi !
Aku sakit Tuhan! Aku sakit! Ini bukan
hanya karena masalah hati, sikap, tapi ini sudah menjadi rutinitasnya. Sifatnya
yang tak pernah berubah. Dan benar, semua janjinya yang kini hanya bisa menjadi
penjelas aku bertahan. Dan sampai akhirnya aku benar-benar lelah untuk
mencintainya. Aku mundur. Aku pergi. Aku sakit. Aku rapuh. Aku hancur. Dan aku
masih mencintaimu sampai detik ini. Mencintai orang yang benar-benar berhasil
mebuatku hancur.
Sekarang aku ikhlas melepaskanmu. Karena
kali ini aku benar-benar lelah. Lelah untuk selalu mengingatkanmu atas apa yang
aku rasakan. Pintaku pada Tuhan, apabila kau benar-benar jodohku, ubah lah
semua sifat buruknya dan dekatkan dia padaku. Namun bila kau bukan jodohku, jauhkan
dia, dan biarkan rasa cinta ini tetap hidup di dalam hatiku.
Aku pergi untuk dia yang bersamamu
sekarang. Aku melepasmu, kali ini aku yang memutuskan, bukan kamu, karena aku
sudah benar-benar tak kuasa menahan semua. Mungkin bahagiamu bukan bersamaku. Semoga
dia tidak mengecewakanmu sepertiku. Dan apa bila dia lebih sabar dariku,
bersyukurlah. Jaga dia, jaga hatinya, aku tak ingin apa yang aku rasakan ini
juga di rasakan wanita lain , cukup aku. Dan apabila ia tak lebih baik dariku,
ingatlah aku selalu mencintaimu, dan kembalilah bila kau benar benar merasa
pantas untuk kembali padaku. Terimakasih untuk semua cerita ini. Terimakasih
kau telah mengajariku rasa yang begitu indah CINTA dan rasa yang begitu perih
SAKIT HATI. Terimakasih untuk semua sakit ini, sakit yang aku pilih untuk
mencintaimu. Satu yang aku ingat dari ini semua, Ibumu yang datang di hadapanku
dan meminta maaf atas semua perbuatanmu padaku, beliau berharap apabila kita
kembali , semoga itu yang terakhir dan selamanya. Dari lubuk hati ini selalu
aku ucapkan , Aku mencintaimu ANDIK DIANSYAH. :’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar