Sabtu, 28 Desember 2013

Apakah Ini Masih Terasa Salah?

Meninggalkanmu adalah pilihanku, tapi untuk melupakanmu aku masih belum mau memilihnya..
Selama ini segala upaya udah aku lakuin agar lenyap semua kenangan indah kita, kenangan masa lalu kita..
Sekuat apa aku mencoba, hasilnya sama saja..

Sekarang adalah musim liburan terakhirku yang bisa aku nikmati..
lari dari semua kenyataan yang ada..
lari dari semua masalah yang membelengguku..
lari dari apa yang telah terjadi..
Aku tahu ini tidak logis..
Aku juga tahu ini tidak dewasa..
Ini kekanak-kanakan..
Sangat..

Terbesit dalam hati seketika setelah aku mendengar kabar tentang sakitmu..
Aku takut, aku takut mendengar kabar itu..
Ibumu yang menyampaikannya.
Ibumu yang mengatakannya kepadaku..

Entah aku yang terlalu geer atau memang Ibumu sayang padaku?
Persetan dengan jawabannya,
toh ya aku selalu ingin mendengar kabar tentangmu dari mana saja..
baik itu kabar baik atau buruk..
jaga dirimu, aku ak bisa lagi merawatmu kali ini..
hanya seutas doa sebelum tidur untuk semua tentangmu..

dear kamu : Nur Andi Prisdiansyah

Kamis, 28 November 2013

Happy Birthday Kamu. Nur Andi Prisdiansyah :')

29 November 2013
SELAMAT ULANG TAHUN KAMU.
HAPPY BIRTHDAY KAMU.
HAPPY SWEET 17th BIRTHDAY KAMU.
AKU SAYANG KAMU.
WISH YOU ALL THE BEST MY FUCKING BELOVED.
GOD BLESS YOU.

Ya.. tepat hari ini, tanggal ini, usia udah genap 17th..
tepat satu tahun yang lalu juga kamu putusin aku di tahun lalu..
tapi aku masih menyayangimu sampai detik ini..
sekarang kamu sudah dewasa..
udah bisa jauh lebih baik dari sebelumnya..
udah bisa banggain orang tua..
jangan nakal lagi..
kasian mama sama papa..
be a good man for any people in your life..
banyak yang sayang sama kamu..
banyak yang care sama kamu..
jangan pernah kamu sia siain mereka..
bahagialah karena aku juga bahagia melihatmu bahagia..

aku gabisa ngasih kamu kado kado lagi kayak tahun tahun yang lalu..
aku gabisa lagi berhubungan dengan mu kayak dulu dulu..
kita udah beda..
kita udah bener bener jauh..
tapi perasaanku ke kamu ga pernah beda..

semua cerita indah kita terukir dibawah sini..
di blog ini..
di hati ini..
di fikiran ini..

mungkin ini bukan hadiah terindah di 17th-mu..
namun aku hanya ingin kamu mengingatnya walau hanya sepintas..
ya?
buka cerita yang telah kutulis dulu untukmu..
di lembar buram yang kujahit dengan pita cokelat..
dengan cover karikatur aku dan kamu..
dengan judul "aku dan kamu"
mungkin kamu bosan, mungkin kamu jeuh dengan semua keluhku di dalamnya..
tapi aku yakin kamu akan tertawa kecil saat sadar itu semua tinggal kenangan..

sekali lagi happy birthday ya kamu..
aku sayang kamu, my Fucking Beloved, Nur Andi Prisdiansyah..

Malam Kemarin ...

Mungkin mereka temanmu. Namun apa salah bagiku, jika aku juga ingin bermain dengan mereka? Aku mengenal mereka karenamu. Apa salah? 
Semalam kita berpapasan di jalan itu. aku sedang bersama mereka dan kulihat jelas kemarahan diwajahmu. kenapa? kenapa kau tunjukkan wajah itu? bukakah kita sudah tidak bersama lagi? kamu yang memilih jalan ini. ini hidupku. kenapa kamu permainkan perasaanku? kenapa? jawab? aku butuh kejelasanmu! aku butuh!
jika kamu menginginkan wanita lain aku sudah rela. benar-benar rela, tapi kenapa bayangmu masih membuntuti ku? aku memikirkan ini sepanjang malam.
aku juga tak tahu yang kamu rasakan padaku, semua semu! tidak jelas! entah kamu sayang atau apa. kamu pergi begitu saja seolah kamu benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padaku. tapi terkadang cemburu diwajahmu menyiratkan sesuatu yang sampai saat ini aku tidak pernah pahami. 
hmm.. aku terus menunggumu. menunggu kejelasanmu akan ini. mengertilah. akulah satu satunya orang yang menunggumu hingga waktuku tidak memungkinkan untuk menunggumu...

Kamis, 21 November 2013

Apa Kabar Kamu?


Apa kabar kamu? Ya kamu yang disana. Yang masih suka bermain main dengan perasaan seseorang. Sudah berapa hati yang kamu sakiti? Semoga hanya satu, dan itu aku. Ya semoga.
Aku merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku? Pasti tidak, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Sudah berapa hari, bulan, tahun aku merasakan hidup tanpamu?
Kamu udah bisa ya hidup tanpa aku? Kok aku belum ya? Tapi aku masih terus berusaha kok J
Tanpamu mungkin tidak sesulit ayng aku bayangkan. Mungkin.
Hmm, sebelum ini aku sudah berjanji untuk tidak membicarakanmu lagi, tapi ternyata aku masih belum sanggup untuk tidak membicarakanmu. Maaf. Aku belum sanggup. Aku terlalu sibuk memikirkanmu tanpa memikirkan diriku sendiri.
Hey, tapi akhir-akhir ini aku sudah banyak memiliki teman dekat. Kamu mungkin mengenalnya. Dia baik, tampan, tak jauh sepertimu. He is like you. Namanya denny. Dia anak kuliahan. Perlahan aku bisa merasakan sayang padanya, tapi aku tidak tahu apakah dia merasakan hal yang sama denganku. Aku hanya takut dia memberiku harapan palsu. Walau sebenarnya dia juga tahu kalau aku masih belum bisa melupakanmu.
Entahlah, aku tak pernah mau serius lagi setelah apa yang aku lalui bersamamu. Ini bukan karenamu tapi karena apa yang telah menimpaku sungguh tragis bagiku. Karena pribadi tiap orang itu berbeda beda. Aku masih mencintaimu dilubuk hatiku yang paling dalam.  

Sebenarnya, masih belum saatnya ...


Saat semua rahasiaku telah kamu ketahui, akankah terbesit sedikit saja di fikiranmu untuk kembali menengok ke belakang? Ya ke masa itu. Masa lalu yang indah bagiku. Akankah? Jawablah. Aku hanya bertanya, bukan untuk memastikan harapan semu itu.
Aku tidak ingin mengakhiri segala sesuatu yang berkaitan denganmu, tapi kenapa tidak pernah kau gubris perhatianku saat itu  hingga aku berfikir , aku harus mengakhiri segalanya. Ya segala tentangmu. Ini yang terakhir ku tulis tentangmu. Tentang kita. Tentang masa indah kita. Ya yang terakhir.
Sampai kalanya tiba, bukalah beberapa lembar dari tulisan ini, bacalah, bacalah isi hatiku untukmu. Saat kau sadari apa yang aku rasakan begitu dalam mungkin aku telah benar-benar jenuh untuk memikirkanmu. Mungkin juga aku telah berpaling.
Disampingku telah kutemukan penggantimu.
Namun dihatiku tak sepenuhnya miliknya, hanya ragaku bukan jiwaku.
Mungkin butuh waktu lebih bagiku untuk menyiasati ini semua agar aku benar-benar lupa pada sosokmu. Tapi secuil doa dalam sujudku akan terus mengiringimu, memelukmu dari jauh, dan doa itu yang akan menjagamu saat aku tak bisa ada di hati dan fikiranmu.
Sekarang bantu aku perlahan untuk membencimu. Perlahan saja. Dan doakan apa yang aku pilih ini adalah yang terbaik bagi kita. Aku dan kamu.
Sesekali aku akan menyapamu, tapi nanti, nanti ketika kamu akan bingung siapa sosok yang menyapamu kala itu, dan kamu mencoba mengingatnya.
Aku akan bercerita tentang hatiku padamu, tentang susah senangku saat aku bersamanya bukan bersamamu. Dengarkan aku ya? Hanya kamu yang aku percaya untuk mendengarkan itu nanti. Ya?

Selasa, 29 Oktober 2013

Sepenggal Kenangan (part 3)

               
                Jelas di otakku tentang semua tingkah konyolmu yang selalu kau lakukan di hadapanku. Entah ketika kita tengah asik makan lalu kamu memeragakan seolah olah kamu gak pernah makan selama berabad-abad. Dengan muka sok bergairah. Bibir yang belepotan dengan bunyi “cap...cap...cap”. tidak sedikitpun terasa ilfil bagiku, aku malah mengagumi sosokmu.

                Belum lagi ketika kamu tengah sakit dengan semua sikap manjamu. Minta disuapin, minta dibeliin makanan yang itulah yang inilah. Semua pun kulakukan. Hanya untuk membuat sehat dan tersenyum.

                Atau ketika aku lagi berkunjung ke rumahmu saat malam hari. Biasanya kita menikmati malam berdua di depan rumah sambil memandang bintang dilangit. Manis sekali. Sesekali kamu mengankat celana yang kamu kenakan hingga sebatas panggul. Lebih mirip celana dalam sebenarnya. Tapi kamu tak pernah malu. Kamu berlenggalk lenggok bak model di atas catwalk sambil mengayun ayunkan tanganmu hingga aku tertawa lepas. Tanpa sadar kamu pun meraih tubuhku dan memelukku hangat. Ingat?

                Ada juga ketika kamu mulai bingung dengan tugas sekolahmu yang seabrek. Mungkin awalnya kamu menolak bantuanku dengan alasan gengsi. Tapi juga nanti kamu juga akan meminta bantuanku juga. Waktu itu sampai sampai peer satu kelas yang aku kerjakan. Tapi aku lakukan sajalah untukmu. Kapan lagi aku bisa membantu kamu dan teman-temanmu?

                Semua cuma memori memori kecil yang sebenernya pahit untuk ku ingat. Tapi aku benar benar tak ingin melupakan itu. biRLh semua tersimpan rapi dalam tulisan dan otak ini.  

Sepenggal Kenangan (part 2)




Dulu tiap pulang sekolah, aku selalu jemput kamu. Ya kamu yang masih kelas 9 SMP saat itu. Lucu. Aku yang notabene pake seragam putih abu abu beradu kontras dengan seragam putih birumu yang udah kumel. Malu sebenernya diliat orang banyak. Secara kontras antara baju kita udah nunjukin betapa bedanya antara kita. Aneh bukan kalau aku suka berondong? Toh ya aku nyaman jalan denganmu tanpa harus aku gubris semua mata yang memandang ke arah kita kala itu.

Tapi itu dulu. Dulu banget. Udah sekitar 3 tahun yang lalu. Dan rasa ini masih belum berubah. Otak ini juga belum mampu melupakan tiap kejadian demi kejadian itu. Ya, mungkin saat ini hanya bisa dikenang. Manis. Makasih kamu yang ngasih warna beda dihidupku.

Sepenggal Kenangan



                                                                 
                Bukan satu, dua juga bukan, apalagi tiga. Tapi ada beribu ribu kenangan yang kamu tinggalkan dibenak ini. Ya hanya kamu tinggalkan begitu saja dengan luka menganga. Tanpa kamu sadar kamulah yang menjadi dalang ini semua. Tak apa, aku tak marah. Tersenyumlah ketika kamu membaca ini, tersenyumlah karena memori otakmu kini telah meproses ulang semua kenangan kenangan masa lalu kita itu. Bila usai diproses maka lanjutkan untuk kembali meredresh semua sebab ketika kamu tengah asyik membaca pastikan terselip sebuah air yang menetes dari relung hatimu yang paling dalam.

               Bahagialah kamu bersamanya, mungkin kebahagian yang kamu miliki sekarang itu, yang tak pernah kau dapat dulu ketika bersamaku.

Selasa, 01 Oktober 2013

Rumah itu Saksi Bisu



Masih seperti biasanya, ku duduk termenung di depan rumah. Tak urung pandangku lepas dari rumah hijau di seberang sana. Rumah yang selalu nampak sepi, baik pagi, siang, sore apa lagi malam. Sesibuk itukah semua penghuninya? Apa tak ada sedikit saja dari kehidupan mereka untuk bersosialisasi?
Sudahlah, bukan urusanku. Mungkin benar kata teman-temanku, kamu hanya masa laluku. Ya orang yang bertempat tinggal di rumah itu. Sesorang yang dulu benar-benar aku sayangi atau bahkan hingga saat ini. Aku juga tak tahu.
Lima bulan sudah kujalani hidupku tanpanya. Tetap saja masih susah bagiku untuk melupakan sosok yang kini benar-benar semu itu.
Kembali lagi pada malam ini, saat aku lihat rumah itu terlintas semua tentangmu. Tentangmu yang dulu. Ketika kita bersama. Melewati berbagai peristiwa. Rumah yang selalu aku hampiri ketika pulang sekolah. Hanya untuk menyatakan kamu baik-baik saja. Membawakanmu makanan, mengerjakan peermu, bersenda gurau, atau sekedar membereskan rumahmu. Namun sekarang, sudah tidak lagi. Itu hanya rangkaiannya cerita yang bisa aku ingat hingga nanti kau benar-benar bukan milikku lagi.
Mungkin saat ini kau bukan milikku, tapi sosokmu yang datang dan pergi akhir-akhir ini membuatku risau, bingung dan bimbang untuk memikirkan apa yang sebenarnya kamu harapkan dariku. Mempermainkanku? Atau kau benar-benar tak bisa jauh dariku?
Memang aku mencintaimu, tapi apa ini yang namanya cinta? Ketika kamu telah benar-benar setia dan cinta mengkhianatimu (berkali-kali)? Tapi bukan ini yang aku mau, kamu memang ada di sampingku tapi kamu tak pernah seutuhnya untukku. Bila kamu memang benar-benar ingin pergi, pergilah, aku ikhlas dengan semua keputusanmu untuk memilih yang lain yang jauh lebih sempurna dariku. Tapi aku mohon, jangan kembali seperti ini lagi, kamu kembali di hadapanku dengan segala kenyamanan yang tak bisa aku miliki seutuhnya karena kamu bukan milikku.
Sekarang mungkin aku telah melemah, karena aku takluk dihadapanmu, dan sekarang juga kamu pergi meninggalkanku lagi. Sebodoh inikah aku? Kapan ini berakhir? Kamu menyiksaku, benar-benar menyiksaku. Sakit bila kamu tahu. Hmm, jangan tahu, rasakan bila kamu mampu.
Ini hanya kenangan saat aku menatap ruma diseberang itu. Akan selalu ku tatap untuk malam-malam berikutnya, agar aku tak lupa dengan semua ceritanya sebelum aku benar-benar pergi meninggalkanmu sayang.
Ya mungkin saat ini aku hanya seorang gadis yang bisanya hanya merengek, menangis, maaf bila yang aku rasakan ini membuatmu risih. Dan aku harap cerita segera berujung ...