Selasa, 29 Oktober 2013

Sepenggal Kenangan (part 3)

               
                Jelas di otakku tentang semua tingkah konyolmu yang selalu kau lakukan di hadapanku. Entah ketika kita tengah asik makan lalu kamu memeragakan seolah olah kamu gak pernah makan selama berabad-abad. Dengan muka sok bergairah. Bibir yang belepotan dengan bunyi “cap...cap...cap”. tidak sedikitpun terasa ilfil bagiku, aku malah mengagumi sosokmu.

                Belum lagi ketika kamu tengah sakit dengan semua sikap manjamu. Minta disuapin, minta dibeliin makanan yang itulah yang inilah. Semua pun kulakukan. Hanya untuk membuat sehat dan tersenyum.

                Atau ketika aku lagi berkunjung ke rumahmu saat malam hari. Biasanya kita menikmati malam berdua di depan rumah sambil memandang bintang dilangit. Manis sekali. Sesekali kamu mengankat celana yang kamu kenakan hingga sebatas panggul. Lebih mirip celana dalam sebenarnya. Tapi kamu tak pernah malu. Kamu berlenggalk lenggok bak model di atas catwalk sambil mengayun ayunkan tanganmu hingga aku tertawa lepas. Tanpa sadar kamu pun meraih tubuhku dan memelukku hangat. Ingat?

                Ada juga ketika kamu mulai bingung dengan tugas sekolahmu yang seabrek. Mungkin awalnya kamu menolak bantuanku dengan alasan gengsi. Tapi juga nanti kamu juga akan meminta bantuanku juga. Waktu itu sampai sampai peer satu kelas yang aku kerjakan. Tapi aku lakukan sajalah untukmu. Kapan lagi aku bisa membantu kamu dan teman-temanmu?

                Semua cuma memori memori kecil yang sebenernya pahit untuk ku ingat. Tapi aku benar benar tak ingin melupakan itu. biRLh semua tersimpan rapi dalam tulisan dan otak ini.  

Sepenggal Kenangan (part 2)




Dulu tiap pulang sekolah, aku selalu jemput kamu. Ya kamu yang masih kelas 9 SMP saat itu. Lucu. Aku yang notabene pake seragam putih abu abu beradu kontras dengan seragam putih birumu yang udah kumel. Malu sebenernya diliat orang banyak. Secara kontras antara baju kita udah nunjukin betapa bedanya antara kita. Aneh bukan kalau aku suka berondong? Toh ya aku nyaman jalan denganmu tanpa harus aku gubris semua mata yang memandang ke arah kita kala itu.

Tapi itu dulu. Dulu banget. Udah sekitar 3 tahun yang lalu. Dan rasa ini masih belum berubah. Otak ini juga belum mampu melupakan tiap kejadian demi kejadian itu. Ya, mungkin saat ini hanya bisa dikenang. Manis. Makasih kamu yang ngasih warna beda dihidupku.

Sepenggal Kenangan



                                                                 
                Bukan satu, dua juga bukan, apalagi tiga. Tapi ada beribu ribu kenangan yang kamu tinggalkan dibenak ini. Ya hanya kamu tinggalkan begitu saja dengan luka menganga. Tanpa kamu sadar kamulah yang menjadi dalang ini semua. Tak apa, aku tak marah. Tersenyumlah ketika kamu membaca ini, tersenyumlah karena memori otakmu kini telah meproses ulang semua kenangan kenangan masa lalu kita itu. Bila usai diproses maka lanjutkan untuk kembali meredresh semua sebab ketika kamu tengah asyik membaca pastikan terselip sebuah air yang menetes dari relung hatimu yang paling dalam.

               Bahagialah kamu bersamanya, mungkin kebahagian yang kamu miliki sekarang itu, yang tak pernah kau dapat dulu ketika bersamaku.

Selasa, 01 Oktober 2013

Rumah itu Saksi Bisu



Masih seperti biasanya, ku duduk termenung di depan rumah. Tak urung pandangku lepas dari rumah hijau di seberang sana. Rumah yang selalu nampak sepi, baik pagi, siang, sore apa lagi malam. Sesibuk itukah semua penghuninya? Apa tak ada sedikit saja dari kehidupan mereka untuk bersosialisasi?
Sudahlah, bukan urusanku. Mungkin benar kata teman-temanku, kamu hanya masa laluku. Ya orang yang bertempat tinggal di rumah itu. Sesorang yang dulu benar-benar aku sayangi atau bahkan hingga saat ini. Aku juga tak tahu.
Lima bulan sudah kujalani hidupku tanpanya. Tetap saja masih susah bagiku untuk melupakan sosok yang kini benar-benar semu itu.
Kembali lagi pada malam ini, saat aku lihat rumah itu terlintas semua tentangmu. Tentangmu yang dulu. Ketika kita bersama. Melewati berbagai peristiwa. Rumah yang selalu aku hampiri ketika pulang sekolah. Hanya untuk menyatakan kamu baik-baik saja. Membawakanmu makanan, mengerjakan peermu, bersenda gurau, atau sekedar membereskan rumahmu. Namun sekarang, sudah tidak lagi. Itu hanya rangkaiannya cerita yang bisa aku ingat hingga nanti kau benar-benar bukan milikku lagi.
Mungkin saat ini kau bukan milikku, tapi sosokmu yang datang dan pergi akhir-akhir ini membuatku risau, bingung dan bimbang untuk memikirkan apa yang sebenarnya kamu harapkan dariku. Mempermainkanku? Atau kau benar-benar tak bisa jauh dariku?
Memang aku mencintaimu, tapi apa ini yang namanya cinta? Ketika kamu telah benar-benar setia dan cinta mengkhianatimu (berkali-kali)? Tapi bukan ini yang aku mau, kamu memang ada di sampingku tapi kamu tak pernah seutuhnya untukku. Bila kamu memang benar-benar ingin pergi, pergilah, aku ikhlas dengan semua keputusanmu untuk memilih yang lain yang jauh lebih sempurna dariku. Tapi aku mohon, jangan kembali seperti ini lagi, kamu kembali di hadapanku dengan segala kenyamanan yang tak bisa aku miliki seutuhnya karena kamu bukan milikku.
Sekarang mungkin aku telah melemah, karena aku takluk dihadapanmu, dan sekarang juga kamu pergi meninggalkanku lagi. Sebodoh inikah aku? Kapan ini berakhir? Kamu menyiksaku, benar-benar menyiksaku. Sakit bila kamu tahu. Hmm, jangan tahu, rasakan bila kamu mampu.
Ini hanya kenangan saat aku menatap ruma diseberang itu. Akan selalu ku tatap untuk malam-malam berikutnya, agar aku tak lupa dengan semua ceritanya sebelum aku benar-benar pergi meninggalkanmu sayang.
Ya mungkin saat ini aku hanya seorang gadis yang bisanya hanya merengek, menangis, maaf bila yang aku rasakan ini membuatmu risih. Dan aku harap cerita segera berujung ...