Kamis, 26 September 2013

Saat Cinta Kita Tak Pernah Usai



Aku pernah setia, tapi aku diduakan
Aku pernah percaya, tapi aku dikhianati
Aku pernah mencintai, tapi aku disakiti
Aku pernah memiliki, tapi aku kehilangan
Aku pernah tulus, tapi aku dibohongi
Aku pernan berharap, tapi harapan itu sia-sia

Masi ada kenangan kita selama 2 tahun terakhir ini

Rasa sayangku mungkin terlalu besar hingga tak aku rasakan sedikit pun benciku padamu
Aku tahu aku harus lanjutkan hidupku tanpamu lagi
Tapi seolah kau menjadi bayang-bayang yang membuatku tak bisa bangkit
Setiap apa yang aku lakukan selalu mengingatkanku padamu
Setiap tempat yang aku hampiri selalu mengenang apa yang telah kita lalui bersama
Kamu manusia yang tak berhati bagiku, tapi kamu adalah yang terbaik yang aku pernah aku miliki
Aku pernah tertawa bersamamu ,
Aku pernah bernyanyi bersamamu ,
Aku pernah berlari bersamamu ,
Aku pernah menangis bersamamu dan karenamu,
Sampai detik ini pun kutulis kisah ini aku masih menangis karenamu dan tanpamu di sisiku
Kelak kau akan tahu bagaimana rasanya jadi aku ..

         
         

Saat semua menghilang, waktuku adalah kamu..
Waktuku untuk mengingatmu,
Waktuku untuk mengenangmu,
Waktuku untuk menangis,
Waktuku untuk memikirkan segala tentangmu yang tak pernah bisa sirna dari fikiranku..
Waktuku semua habis hanya untukmu, tapi tak pernah ku sesali itu..
Rasa sakit yang kau beri yang aku tak tahu dimana letak akhirnya sama seperti cerita cinta kita yang tak memiliki ujung..sampai detik ini..




          Ini bukan lah sebuah cerita karangan,
       Ini juga bukan sebuah kisah khayalan,
       Ini hanyalah cerita dari ungkapan hati manusia ..  


       Namaku Dede. Kutulis semua yang aku alami disini. Anggap saja aku sedang menceritakan kisah ku pada kalian. Semua curahan hati ini. Tentang cinta. Romansa cinta anak SMA.
       Pernah gak kalian ngalami cinta monyet? Cinta yang asik, seru, unik,dan lucu? Tapi cinta itu berubah menjadi cinta yang tulus, bukan lagi cinta main-main. Mungkin memang belum saatnya, tapi apabila itu takdir Tuhan, mengapa tidak?
       Jujur aku pernah mengalaminya, dan sampai detik ini aku bercerita tentang ini pun aku masih merasakannya. Merasakan perasaan yang berbeda terhadap seseorang. Perasaan yang awalnya hanya sebuah cinta monyet namun sekarang seolah berubah menjadi cinta yang benar-benar tulus.
      


Sejak awal Tuhan menentukan cara kita bertemu. Sejak awal Tuhan menentukan cara kita bersatu. Dan segala sesuatu yang terjadi dalam kisah kita. Aku benar-benar sadar semua terjadi secara kebetulan.

Aku dan dia adalah seorang teman lama. Teman kecil di sebuah perumahan. Sering bermain bersama. Tertawa bersama. Nakal bersama. Walau umur yang membedakan kami, itu tak menjadi masalah untuk keisengan yang semua kami lakukan. Saat masih TK pun kami juga satu sekolah. Aku kakak kelasnya. Masih sering main bareng juga, sampai-sampai antar-jemput ke sekolah juga bareng.
Terus bergulirnya waktu kami juga sudah sama-sama beranjak remaja. Sekolah di tempat pilihan masing-masing. Di rumah terkadang kami juga masih sempat bermain bersama. Tapi lambat laun karena kesibukan masing-masing dari kami, kami jarang lagi berkumpul seperti dulu. Tak ada lagi yang namanya main petak umpet, jolip-jolipan, kirik gancet, dan semuanya. Kami sudah sama-sama asing. Bahkan untuk bertegur sapa pun kami enggan. Entah kenapa. Tapi ini hanya tentang aku dan dia. Beda dengan teman-temanku yang lain. Kami tetap bertegur sapa atau bahkan berkumpul untuk bercerita pengalaman masing-masing.
Berjalan hari demi hari, waktu demi waktu, hingga saat itu aku teringat awal dimana Tuhan mengubah semua kondisi ini. Cukup konyol untuk diingat. Namun itu sangat berkesan. Ketika aku tengah duduk asik menikmati indahnya malam bersama sahabatku di depan rumah. Saat itu pula kamu datang. Hadir dalam kehidupanku. Ini bukan tentang aku yang tengah risau karena patah hati dengan pasangan sebelumnya. Namun aku tak pernah berharap atau hanya sekedar meminta kepada Tuhan akan kehadiran sosokmu dalam hidupku. Atau inikah Takdir?
Kamu melintas malam itu. Membuatku tertawa akan tingkah konyolmu. Hingga aku benar-benar tersipu dengan kehadiranmu. Entah apa yang membuatku merasa nyaman berhubungan denganmu. Bahkan sangat ingin terus menghubungimu. Sampai akhirnya tanpa aku sadari, malam itu tengah kita menikmati pesta di rumah, aku menyatakan apa yang aku rasakan kepadamu. Aku sadar ini nekat atau bahkan salah, karena kamu telah memiliki pujaan hati. Tak dapat kupungkiri pun aku juga telah memiliki kekasih. Tapi kenapa kamu ijinkan aku masuk dalam hubungan kalian? Kamu ijinkan aku masuk terlalu dalam, sangat dalam. Ini salah. Tapi aku tak mau mengakhirinya. Sulit bagiku untuk menyadarkan diri atas apa yang aku rasakan dan kamu rasakan adalah salah. Meski aku tahu kita memiliki perasaan yang sama. Andai keadaan tak sesulit ini, mungkin aku bisa bahagia, sangat bahagia ketika aku ada disampingmu.
Ini bukan hal logis, ini masalah hati. Sering pula ku rasakan sakit saat kamu tengah bersamanya. Sakit yang teramat sangat. Yang semestinya tak aku rasakan saat aku tak berada di posisi ini. Ya, menjadi kekasih gelapmu. Sulit memerankan apa yang seharusnya tak aku inginkan. Namun, semakin hari semakin jauh hubungan ini, semakin besar pula rasa ini.
Terkadang aku berdoa pada Tuhan, akankah aku menerima karma dari ini semua? Bukan aku yang memilih ini, dia yang hadir dan memberikan kenyamanan padaku sehingga aku benar-benar terjebak. Terkadang aku tak bisa membedakan apa ini hanya sebuah rasa nyaman yang teramat atau rasa sayang yang menggebu? Aku benar benar tak tahu. Di sisi lain aku kasihan melihat wanita yang lebih dulu bersamamu merasakan perih atas perselingkuhan ini, namun di sisi lain aku tak bisa berada jauh darimu. Apakah ini adil? Apakah egoku terlalu besar? Aku tak bisa berfikir dengan tenang Tuhan! Ini membingungkanku.
Seiring dengan bergulirnya waktu, semua terungkap. Mungkin aku bahagia bisa menjadi satu satunya gadis dalam hidupmu, namun aku tak pernah tenang dengan semua yang telah terjadi. Ketakutanku semakin menjadi jadi.
Aku tahu suatu saat nanti semua akan terjadi. Tepat hari itu, tepat dimana kamu menggantungkan hubungan ini. Cukup lama aku mencari sosok mu di dalam kegelapan. Tak ku temukan cahaya disana. Sangat gelap. Aku selalu berdoa pada Tuhan untuk memberikan secercah cahayanya pada hubungan ini. Hubungan sulit ini. Ketika aku telah benar-benar rapuh di saat aku kehilangan bayangmu, seketika itu bayangmu hadir di hadapanku. Dengan senyuman kau datang. Namun senyuman itu lenyap saat kau berkata untuk mengakhiri segalanya. Semua cerita kita.
Dari awal aku yang tengah rapuh kini menjadi hancur. Tiap malamku ku isi dengan tangisan, tangis kepedihan saat aku harus menerima kau memilih dia. Dia yang menjadi kekasihmu. Tapi apa yang terjadi, wanita yang kau pilih malah mencampakkanmu. Dan maaf saat itu aku tengah merasakan sakit yang dalam sehingga aku tak bisa bersamamu lagi saat kau berpaling dari penolakannya. Aku terdiam dalam sakitku. Aku benar-benar mencintaimu, tapi sakit ini menyiksaku. Aku hanya bisa bersujud dan memohon pada yang Maha Kuasa untuk memberikan yang terbaik bagimu.
Waktu terus bergulir. Tanpa terasa kami juga semakin dewasa. Dewasa dari keadaan yang dulu. Mungkin kau telah melupakanku, kau telah menjalin cerita indah dengan wanita lain di luar sana dan bahkan lebih bahagia mungkin. Dan aku hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaanmu. Aku memang mencintaimu , tapi bahagiamu diatas segala-galanya bagiku. Sampai sekarangpun aku tak ingin melupakanmu, walau pahit kenangan ini.
Rencana Tuhan selalu indah bagiku. Di setiap rencananya selalu ada hikmah yang dapat aku ambil sebagai penguatku. Kali ini Tuhan menemukan kita kembali. Dalam pertemuan singkat di sebuah cafe. Malam itu. Ya, aku ingat malam itu. Aku ingat kejadian itu. Aku ingat seperti apa rupamu, pakaianmu, dandananmu, gayamu. Dan aku suka itu. Mungkin, kau tak banyak berubah, hanya rupa kedewasaan yang mungkin sedikit berubah. Namun sayang, setelah kita bercerita, terbesit rasa kecewa karena kau telah bersama gadis lain. Tapi kulihat kebahagiaan disana, sedikit demi sedikit aku bisa melepas senyum keikhlasanku untuk melihatmu bahagia.
Tak lama dari itu, Tuhan mengubah jalan cerita ini. Entah apa yang Tuhan inginkan, mengujiku kembali atau apa. Tuhan mengembalikanmu padaku. Untuk kembali menjagamu, menyayangimu, mencintaimu. Aku tak pernah tahu bagaimana kedepannya nanti, tapi hatiku memang tak bisa memungkiri segala sesuatunya.  Aku luluh di hadapanmu. Aku mengiyakan untuk kembali berbagi cerita hidup bersamamu.
Aku bahagia bersamamu. Semua kita lalui bersama. Kenakalan-kenakalan kita tengah itu. Keisengan kita. Semua. Aku bahagia Tuhan. Dan setiap aku mengucap pengharapanku, aku selalu takut untuk kehilangan dia. Dia begitu berarti bagiku. Dia siang dan malamku. Dia benar-benar telah membuatku bertekuk lutut. Seperti budaknya. Yang seketika bisa ia tinggalkan begitu saja.
Keyakinanku padanya semakin besar. Cintaku, sayangku, tak akan pernah hilang. Cerita yang lalu mungkin awal dari pengalamanku. Dan akan menjadi pelajaran bagiku.
Setiap apa yang kita lakukan berdua benar-benar menjadi kenangan bagiku. Aku ingat saat itu bulan November. Mendekati hari ulang tahunmu. Aku pernah bertanya, apa yang kau minta saat ulang tahunmu nanti. Dan betapa terkejutnya aku saat ku dengar jawabanmu, kau hanya minta aku ada di sampingmu saat ulang tahunmu. Aku selalu menjawab aku akan setia ada di sampingmu sampai kapanpun. Saat aku sebagai kekasihmu ataupun bukan. Sebenarnya aku tangah menyiapkan segala sesuatunya untuk ulang tahunmu.
Namun semua berbeda. Benar benar semua ketakutanku menjadi nyata kembali. Mungkin aku terlalu naif untuk menganggap ini semua kebetulan. Sebelumnya kau selalu menghindar dariku, menjauh, mengelak, tak berbicara, dan menggantungkan hubungan ini sekali lagi. Perih bila kau tahu rasanya.
Saat itu, tepat sehari sebelum hari ulang tahunmu. Kebahagiaanku terenggut. Apa yang selalu aku takutkan sekarang terjadi (lagi). Kau berpaling. Mendua. Meninggalkanku dengan cara yang sama. Sama seperti dulu kau meninggalkanku demi wanita lain. Seperti dulu aku yang rapuh karena kehilangan bayangmu, seakan-akan kini aku tak tahu harus berbuat apa. Serasa terenggut hidupku. Kali ini benar-benar sakit dari yang sebelumnya. Sebagai seorang wanita, aku hanya bisa menangis. Karena sakit yang aku rasakan ini benar-benar sakit.
Semua yang telah aku perjuangkan sekarang hilang di terpa badai. Tapi aku tetap setia pada janjiku. Janji setiaku padamu. Mungkin sakit, tapi apa boleh daya, bila kebahagiaanmu bukan bersamaku. Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan, melihat senyummu, tawa bahagiamu, tak pernah tersirat keinginanku untuk melihatmu bersedih.
Tak pernah kurasakan mencintai seseorang akan sesakit ini. Sesakit batin yang selalu menyiksaku untuk melihatmu bahagia. Terkadang aku tak rela, namun aku selalu bersikap dewasa. Demi terlihat tegar. Aku tak sanggup tanpamu.
Aku masih ingat, kala itu setelah kau benar benar merasa wanita yang kau pilih adalah tepat untuk membahagianmu daripada aku. Cukup lama setelah perpisahan kita. Tanpa sengaja tengah aku pergi ke suatu tempat, aku bersama temanmu, berdua dan kau memperhatikan itu. Ketika aku sampai di rumah, betapa terkejutnya aku saat menerima pesan singkat darimu, kau mengatakan bahwa kau cemburu saat aku bersama temanmu tadi, aku mencoba untuk tidak terpancing dengan apa yang kau katakan. Sudah cukup bagiku mencintaimu, aku pertahankuan rasa ini karena aku mau, tapi untuk di sakiti mungkin tidak lagi. Logika memang tak seutuhnya benar, hati ini bergejolak. Meronta. Memintaku untuk kembali luluh di hapannya.
Kadang aku berdoa pada Tuhan, sebenarnya apa yang Tuhan inginkan dariku, mengapa Dia mempermainkan perasaanku ini. Apa boleh buat. Lagi-lagi aku mengiyakan untuk memaafkan segala tingkahnya. Dia berjanji padaku untuk tak mengulanginya lagi. Semua janjinyalah yang esok akan bercerita padaku, apakah ia hanya main-main atau bersungguh-sungguh.
Kau tak pernah berubah untuk bisa membuat hati ini bahagia. Meski kadang sakit mengingat apa yang tengah aku perjuangkan suatu saat akan kembali terenggut. Aku yakin, ini sudah menjadi kebiasaannya untuk mempermainkan aku. Dan suatu saat semua akan terulang, entah kapan, dan entah kapan pula aku harus benar-benar jera untuk mencintainya.
Dan saat itu pun terjadi !
Aku sakit Tuhan! Aku sakit! Ini bukan hanya karena masalah hati, sikap, tapi ini sudah menjadi rutinitasnya. Sifatnya yang tak pernah berubah. Dan benar, semua janjinya yang kini hanya bisa menjadi penjelas aku bertahan. Dan sampai akhirnya aku benar-benar lelah untuk mencintainya. Aku mundur. Aku pergi. Aku sakit. Aku rapuh. Aku hancur. Dan aku masih mencintaimu sampai detik ini. Mencintai orang yang benar-benar berhasil mebuatku hancur.
Sekarang aku ikhlas melepaskanmu. Karena kali ini aku benar-benar lelah. Lelah untuk selalu mengingatkanmu atas apa yang aku rasakan. Pintaku pada Tuhan, apabila kau benar-benar jodohku, ubah lah semua sifat buruknya dan dekatkan dia padaku. Namun bila kau bukan jodohku, jauhkan dia, dan biarkan rasa cinta ini tetap hidup di dalam hatiku.
Aku pergi untuk dia yang bersamamu sekarang. Aku melepasmu, kali ini aku yang memutuskan, bukan kamu, karena aku sudah benar-benar tak kuasa menahan semua. Mungkin bahagiamu bukan bersamaku. Semoga dia tidak mengecewakanmu sepertiku. Dan apa bila dia lebih sabar dariku, bersyukurlah. Jaga dia, jaga hatinya, aku tak ingin apa yang aku rasakan ini juga di rasakan wanita lain , cukup aku. Dan apabila ia tak lebih baik dariku, ingatlah aku selalu mencintaimu, dan kembalilah bila kau benar benar merasa pantas untuk kembali padaku. Terimakasih untuk semua cerita ini. Terimakasih kau telah mengajariku rasa yang begitu indah CINTA dan rasa yang begitu perih SAKIT HATI. Terimakasih untuk semua sakit ini, sakit yang aku pilih untuk mencintaimu. Satu yang aku ingat dari ini semua, Ibumu yang datang di hadapanku dan meminta maaf atas semua perbuatanmu padaku, beliau berharap apabila kita kembali , semoga itu yang terakhir dan selamanya. Dari lubuk hati ini selalu aku ucapkan , Aku mencintaimu ANDIK DIANSYAH. :’)

Rabu, 25 September 2013

Pernah Tidak ? (part2)

pernah tidak kamu memutuskan untuk berhenti mencintai.....dan itu susah.
disaat semua kenangan telah terukir sempurna. kamu dan aku.
ini tidak sulit ketika semua seperti yang kita harapkan.
namun ketikatakdir menginginkan lain, semua hilang.
sama seperti sekarang, aku sendiri, tanpamu.
atau mungkin tidak benar-benar sendiri. karena masih ada memori masa lalu kita bersamaku.
bagiku, bukan bayangmu benar yang menyiksaku untuk melupakanmu, namun masa lalu indah kita yang menyiksa batin dan fikiranku.
terkadang aku sadar, apa yang lakukan semua sia-sia, mengingatmu, mengenangmu, menangisimu, hingga aku lupa diri. tapi aku tak pernah menyesal akan hal itu.
ini bukan sekedar kata-kata, ini ungkapan hati.
hati yang telah tergores dengan setumpuk pengkhianatanmu.
aku tak pernah membencimu, aku juga tak pernah marah padamu. kenapa?
karena aku tulus, cinta dan benciku tak dapat kurasakan.
terlalu dalam cinta ini padamu, tapi kamu tak pernah menganggap yang aku rasakan ini adalah benar.
disakitimu tak pernah membuatku jera. jera untuk mencintaimu.

saat aku ingat awal kita berkenalan, sampai saat ini aku tak pernah menyesal dengan semua yang telah terjadi.
semua menjadi rantaian cerita yang akan aku ceritakan pada anak cucuku kelak.
akan ku ceritakan betapa bodohnya aku saat aku benar-benar mencintaimu.
betapa bodohnya aku saat aku benar-benar takluk akan kedatanganmu.

cinta kita tak akan pernah usai.
aku yakin itu ...
Pernah Tidak ?

pernah tidak berfikir, kenapa kita, aku atau kalian lebih suka berbagi cerita ini dalam tulisan dibanding berbagi dengan orang lain ? 
alasanku cuma satu, karena kertas tak pernah menolak semua yang aku lontarkan padanya.
dia tak pernah menyalahakan semua yang aku lakukan. yang ia lakukan hanyalah mendengar.
ya,sampai sekarang pun yangia lakukan hanya mendengar, ia merupakan saksi bisu diantara cerita kitra. apabila kaumu ingin penjelasan dariku,tanya saja pada kertas ini, dia yang tau segalanya.
saat aku sayang padamu, cinta padamu, marah padamu atau kecewa padamu...

Selasa, 24 September 2013

Suatu Saat Nanti dan Entah Kapan :')
 
suatu saat kamu akan tahu yang aku maksud..
suatu saat kamu kan paham apa yang aku jelaskan..
suatu saat kamu akan merasakan apa yang aku rasakan..
tunggu, aku tak pernah ingin kamu merasakan sakit yang aku rasakan ini, karena aku tak ingin melihatmu terluka..
biar aku saja yang merasakan, jangan kamu atau orang lain..

ini sakit, tapi aku tahan..
ini perih, tapi aku kutkan..
ini pahit, tapi aku simpan..

indah saat semua terlihat sempurna..
untuk kamu yang disana, jangan pernah lakukan hal yang sama pada wanita lain, aku mencintaimu, kemarin, esok, dan selamanya